web 2.0
Tampilkan postingan dengan label Budi Pekerti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budi Pekerti. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Februari 2010

Inovasi Beramal

"Sembahlah Tuhanmu sampai datang suatu keyakinan kepadamu." (Al-Hijr : 99)

Feri Aikhandra| Saudaraku, coba kita ingat dikala kita memilki sebuah baju baru yang merek dan modelnya belum ada yang menggunakannya selain kita, ada sedikit bangga bahkan sangat bangga yang kita rasakan, karena kita mampu tampil beda dan lebih baik dari orang lain. Terasa sakit hati ini bila tidak ada yang memperhatikan atau menanyakan harganya. Lama kelamaan baju seperti yang kita miliki itu juga digunakan oleh orang lain, hati kita sudah mulai biasa-biasa karena memang baju kita sudah mulai buram, sudah kena tinta dikantongnya, kerahnya sudah banyak kata-kata mutiaranya atau kancingnya sudah ada yang lepas.

Kita mulai menyadari diri kita bahwa bukan kita saja yang bisa membelinya. Akhirnya setiap hari kita menggunakan baju tersebut dengan perasaan yang biasa-biasa, sudah kita anggap sebagai suatu kebutuhan bukan alat pamer lagi. Di lain waktu hasrat untuk membeli yang baru muncul lagi. Begitulah seterusnya.

Gambaran diatas hanyalah sebuah contoh bagaimana kita beramal. Di saat kita mulai mencoba sebuah amalan dari ilmu yang kita dapatkan, diri ini juga turut sibuk untuk dipuji atas amal yang kita lakukan. Saat pertama menemukan titik balik kehidupan, sudah bisa shalat teratur, puasa senin kamis atau bisa bersedekah, belum puas rasanya kalau tidak ada orang yang melihat dan menilai tingkat ketaqwaannya.

Disisi lain dia yakin Allah Maha Pengawas dan tidak patut untuk disekutukan, tapi gejolak rindu sanjungan masih terus menggoda dihati. Saudaraku, bila muncul perasaan begini jangan pernah berhenti untuk beramal. Inilah hidayah, jaga hidayah itu! Allah akan mengajarkan kita ilmuNya yang lain disaat setiap kali kita mengamalkan ilmunya. Jangan karena takut riya kita berhenti beramal! Syaitan akan bertepuk tangan kegirangan karena kita berhenti beramal. Toh mereka juga tidak akan bertanggung jawab atas kelalaian kita di akhirat kelak.

Semakin hari, kita semakin sadar bahwa amal akan sia-sia bila kita barengi dengan sikap pamer dan bangga diri. Tapi rasa tersebut tetap saja ada di relung qolbu kita. Memang teras begitu rumit, tapi bagi orang yang meyakini dengan ilmu yang lain justru inilah ilmu yang sedang diajarkan oleh Allah kepada kita.

Dalam surah As-syamsi Allah menegaskan "Fa'al hamaha fujuraha wataqwaha". Allah telah menginstal kedalam qolbu kita kejahatan dan ketaqwaan. Lintasan-lintasan pikiran yang buruk memang sangat mengganggu sekali, padahal kita tidak pernah merencanakan. Saat kita melihat orang yang lebih baik dari kita, pikiran langsung merespon hal yang negative dan positif tergantung magnet mana yang paling kuat dalam jiwa kita.

Itulah sebabnya Rasulullah mengajarkan kita tentang 7 sunnah yang baik diamalkan, yang salah satunya adalah memperhebat istighfar. Benar-benar lintasan pikiran jahat akan menjadi ladang istighfar bila kita mengetahuinya. Semoga Allah mengganti keburukan pikiran kita dengan kebaikan yang berlipat-lipat ganda banyaknya.

Kita Harus banyak beristighfar dan bertaubat. Karena Allah ini benar-benar berbuat menurut Kehendaknya. Suka-Sukanya. Tapi suka-suka Dia beda dengan suka-suka kita, Kalau kita suka-suka karena nafsu kita, tapi Allah suka-suka dengan KebijaksanaanNya. Kalau tidak pandai dalam menyikapi lintasan ini maka kita akan berada dalam kehinaan dan kegagalan hidup. Jatuh bangun aku mengejarmu...demikian syair sebuah lagu dangdut. Karena inilah hidup.

Rasulullah SAW menggambarkan Qolbu kita seperti sehelai bulu ayam di tengah lapangan yang diterpa angin, mudah sekali terbolak-balik karena makna Qolb itu sendiri adalah terbolak balik, sehingga walau di Manajemen Qolbu bagaimanapun dia akan terbolak-balik, tapi bukan berarti kita harus menyerah begitu saja, berhenti shalat sunnat rawatib, berhenti sedekah, berhenti tahajud, berhenti puasa. Jangan saudaraku,..jangan...teruskan saja. Itulah sebabnya Rasulullah SAW sampai 70 kali beristighfar kepada Allah dalam sehari semalam.

Hati ini benar-benar rahasia Allah dan diri kita sendiri saja yang tahu. Bahkan para Malaikat yang mencatat amal kita tidak tahu niatan dalam hati kita. Jangan heran bila kita pernah mendengar bagaimana Allah melempar amalan seorang hamba yang dibawa oleh Malaikat karena amalannya tidak ikhlas.

Saudaraku, inti ibadah adalah Do'a. Otak Ibadah adalah Do'a. Senjata umat islam adalah do'a. Inilah beberapa sabda Rasulullah yang patut diamalkan seiring dengan amalan kita yang lainnya. Perbanyak berdo';a agar hati kita tidak dicondongkan kepada kefujuran (keburukan), amalan kita bukan jaminan untuk memasukkan kita dalam jannahNya, amalan kita buat kebaikan kita sendiri, sebagai rahmatan lil alamin, Pengampunan Allah-lah yang justru kita harus gembor-gemborkan.

Nah, kenapa kita berhenti beramal? Kenapa kita sudah puas dengan amalan kita saat ini? Coba-terus, inovasi terus amal kita. Orang yang bernaluri inovasi akan selalu rindu syariat. Iringi terus dengan istighfar agar pakaian amal kita sudah menjadi kebutuhan bagi diri kita. Bukan untuk pamer lagi. Shalat yang duu kita pamer-pamerkan kini sudah menjadi sebuah kebutuhan rohani kita lagi. Terasa berat bila ditinggalkan. Karena kita semakin sadar bahwa kita bukan apa-apa didunia ini.

Ilmu kita yang kian banyak dari setiap amalan kita harus mampu mencapai hakikatnya, yakni kesadaran diri. Seorang ahli komputer setinggi apapun ilmunya harus bisa menyadri dirinya bahwa ia bukanlah apa-apa bila dibanding Penciptanya. Awaluddin Ma'rifatullah, Ma'rifatullah Ma'rifatunanfs. Awal agama adalah mengenal Allah, Untuk Mengenal Allah maka kenalilah diri sendiri (nafs).

Astaghfirullahal 'Adzhiem.

Sabtu, 30 Januari 2010

Menilai Orang lain

Syafriwan | Seseorang cenderung memberikan penilaian (judge) terhadap orang lain berdasarkan kriteria, norma, nilai dan standard yang ia miliki, bukan berdasarkan kriteria norma, nilai dan standard yang dimiliki orang yang ia nilai. Lebih jauh lagi, judge, claim dan bahkan vonis yang diberikan sering kali tanpa didahului analisa dan pemahaman tentang apa yang dijudge. Kadang kita berpikir, kenapa kita suka menilai orang lain ? membuat stereotype, berprasangka, prejudice, berasumsi, mempersepsi perilaku orang lain..
"....kita ini makhluk yang butuh kepastian..."
Kepastian membuat kita tenang dalam menghadapi hidup. Kita butuh memperkirakan masa depan, dan gelisah terhadap ketidakpastian. Karenanya, manusia cenderung cepat mengambil kesimpulan, seberapapun sedikitnya informasi yang dimiliki.
Kita juga belajar dari pengalaman. Kita melakukan deduksi terhadap satu atau lebih peristiwa, melihat pola-pola kesamaan, dan dengannya memperkirakan apa yang akan terjadi kemudian.
Sayangnya, dunia manusia tidak bisa direduksi menjadi hubungan sebab-akibat. Yang ada adalah pola hubungan nonlinear. Tiap hubungan menimbulkan satu bentuk baru yang muncul secara sontak…whatever....~~

Intinya, banyak sekali informasi yang harus kita cari, pola-pola hubungan yang terkesan acak yang perlu kita dalami lagi, sebelum kita berangkat pada kesimpulan "....especially when it concerns our perception to others...." Susah kan ?

Ada lagi cara yang lebih gampang "Let it be..." Tidak perlu menilai, tidak perlu meramalkan, cukup percaya dan menerima..

Kita cukup percaya kalau semua orang adalah individu yang berbeda, unik, –and yet, sama. Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa dia tidak bisa dipercaya hanya karena dia satu-dua kali mengingkari janji. Dan kita tidak bisa membencinya hanya karena dia telah dilabeli ’pembohong’, misalnya. Setiap manusia sama, belajar, dan melakukan kesalahan.

Sedikit menenangkan saat dapat melihat orang lain tanpa pretensi apapun. Susah memang, tapi menenangkan..:)

TQ readers....

Jumat, 29 Januari 2010

Agar Tidak Berfikir Picik

Ahimsa Avanti | “…Betapa banyaknya engkau melihat orang yang bersikap wara’ dari perbuatan keji dan kezhaliman, namun lidahnya melemparkan kedustaan kepada kehormatan orang yang masih hidup maupun telah meninggal. Dan ia tidak peduli dengan apa yang ia ucapkan…”.

Syeikhul Islam mengatakan:
“Diantara manusia, ada yang mengghibah orang lain demi (menyenangkan) orang yang hadir di majelisnya, teman-temannya, dan kerabat-kerabatnya. Diantara mereka adapula yang melakukan ghibah dengan berbagai cara. Kadang ada yang melakukannya dengan berlindung dibalik keshalehan dan keta’atannya beribadah.
Dan pada lain kali ia akan mengatakan:’Jangan lagi singgung tentang dia! Semoga Allah mengampuni kita dan dia…’, padahal maksudnya hanyalah meremehkan dan merendahkan orang itu. Mereka melakukan ghibah dengan berlindung di balik alasan agama dan keshalehan. Mereka telah menipu Allah sebagaimana mereka telah menipu makhluq-Nya. Dan kita telah melihat banyak orang seperti ini dan yang semacamnya.”

jika ada di antara saudara2 sekalian yang mencela orang atau golongan lain dengan berbagai macam tuduhan, silakan saudara uraikan tuduhan saudara secara jelas disertai bukti2 yang konkret.

kemudian jika ada di antara saudara2 sekalian yang mempunyai pembelaan atas tuduhan dari orang2 sekitar, silakan saudara uraikan pembelaan saudara secara jelas disertai dengan dalil2 yang shohih.

hal ini di maksudkan agar kita lebih mengenal tentang sejatinya dan juga sekaligus meluruskan tuduhan2 yang memojokkan seseorang atau suatu golongan agar kita semua kembali pada ajaran islam yang lurus dan benar.

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”.
QS.Ash-Shoff: 2-3

“(Ingatlah) diwaktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja . Padahal di sisi Allah adalah (perkara yang sangat) besar.”
QS.An-Nur:15

Belajar Dengan Adik Kecil

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Perbanyaklah kenalan orang-orang fakir miskin dan berbudilah kepada mereka karena mereka kelak akan mendapat kekuasaan." Sahabat bertanya: "Apakah kekuasaan mereka, ya Rasulullah?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: "Bila tiba hari kiamat maka dikatakan kepada mereka: "Perhatikan siapa yang dahulu pernah memberimu makanan atau minuman seteguk atau sehelai baju, maka peganglah tangannya dan tuntunlah ke surga."
Romi Hendrizal | Di suatu sore hari pada saat aku pulang dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan di sebuah lampu merah perempatan jalan. Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut ,ia menyapa akrab setiap orang, dari tukang koran , penyapu jalan, tuna wisma sampai Pak Polisi.

Pemandangan ini membuatku tertarik, pikiran ku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan ? “Kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??, untuk membunuh rasa penasaran ku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai di sebrang jalan , setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang.

”Dek, boleh kakak bertanya ?” tanyaku.

“Silahkan kak.” Jawab adik kecil.

“Kalau boleh tahu yang barusan Adik bagikan ketukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak polisi, itu apa ?” tanyaku dengan heran.

“Oh… itu bungkusan nasi dan sedikit lauk kak… memang kenapa kak?” dengan sedikit heran , sambil ia balik bertanya.

”Oh... tidak! Kakak Cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah terbiasa dan cukup akrab dengan mereka. Apa kamu sudah lama kenal dengan mereka?”

Lalu ,Adik kecil ini mulai bercerita, “Dulu … aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma, setiap hari bekerja hanya mengharapkan belaskasihan banyak orang, dan seperti kakak ketahui hidup di "?" begitu sulit, sampai kami sering tidak makan, waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan.”

“Apabila kami mengingat waktu dulu… kami sangat-sangat sedih , namun setelah ibuku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik. Maka dari itu ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu , jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup , kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka.”

”Yang ibu ku selalu katakan ‘hidup harus berarti buat banyak orang‘, karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu Kasih kepada sesama serta Amal dan Perbuatan baik kita , kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang , kenapa kita harus tunda.”

”Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat , hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta, apa yang kita bawa?

Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hatiku, saat itu juga aku merasa menjadi orang yang tidak berguna, bahkan aku merasa tidak lebih dari seonggok sampah yang tidak ada gunanya,dibandingkan adik kecil ini.

"...Aku yang selama ini merasa menjadi orang hebat dengan pendidikan, namun untuk hal seperti ini, aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini, aku malu dan sangat malu. Ya.. Tuhan, Ampuni aku, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepada Mu..."

Hanya Kasih yang sempurna serta Iman dan Pengharapan kepada-Mu lah yang dapat mengiringiku masuk ke Surga. Terima kasih adik kecil, kamu adalah malaikat ku yang menyadarkan aku dari tidur nyenyakku.

....Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih tidak berkesudahan...


Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: `Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.
(QS. 14:31)

TQ Readers.. ^_^

source CINTAI ANAK YATIM